Kematian, Menurut Syaikhana Kholil dan Kaum Sufi

Risalah Isti’dad Al-Mawt 

Selayaknya kaum sufi, Syaikhana Kholil memiliki perhatian khusus pada kematian. Terbukti dengan ditulisnya sebuah risalah kecil berjudul isti’dad al-mawt fi al-hatstsi ala zikri al-mawt wa fiqhi al-janazah yang diterbitkan oleh Lajnah Turots Al-Ilmi Bangkalan. Risalah ini memuat pentingnya mengingat kematian, mempersiapkan bekal, bagaimana mentajhiz jenazah, tata cara shalat jenazah, tata cara talqin dan doanya, ziarah kubur dan cara mengucapkan salam pada ahli kubur.

Syaikhana bukan orang pertama yang menulis buku khusus tentang kematian. Ada Imam Al-Qurthubi (671 H) yang menulis at-Tazkirah fi Ahwal al-Mawta wa Umur al-Akhirah, Ibn Abi Ad-Dunya yang menulis kitab al-muhtadlarin, Ibn Rajab Al-Hambali (795 H) dengan Kitab Ahwal Al-Qubur wa Ahwali Ahliha Ila An-Nusyur, imam As-Suyuthi (911H) dengan syarhu as-sudhur bi syarhi al-mawta wa al-qubur.

Kematian Menurut Syaikhana

Kematian seperti dideskripsikan oleh Rasulullah Saw. Adalah Hazim al-lazzat (penghancur kenikmatan dan kelezatan) dunia. Mengingatnya masuk dalam kategori ibadah yang dianjurkan; mengingatnya bisa menumbuhkan keimanan dan kesadaran akan kehidupan dunia yang fana; mengingatnya akan membuat seseorang semakin bersemangat menambah amal shaleh sekaligus mencegahnya dari amal buruk dan maksiat.

Sayidina Umar sendiri memiliki cincin yang tertulis di dalamnya كفى بالموت واعظا sebagai isyarat betapa pentingnya mengingat kematian. Dalam mukaddimah kitab Isti’dad Al-Maut, Syaikhana Kholil membuka dengan “…. Seyogyanya bagi setiap orang berakal dan baligh agar mengingat mati, dengan bersegera melakukan amal shaleh, dan menjauhi amal buruk…”

Amal shaleh adalah yang dipuji oleh syariat, dan amal thaleh adalah yang dicacat oleh syariat. Amal shaleh, dalam perspektif Syaikhana, akan menjadi sangu (bekal) menuju kematian. Sangu seperti termanifestasi dalam amal shaleh bisa berupa memperbanyak zikir pagi dan petang, membaca al-baqiyat as-shalihat (subhanallah, wal hamdulillah, wa la ilaha illa Allah, wa Allahu Akbar, wa la haula wa la quwwata illa billahi), membaca istighfar
استغفر الله العظيم الذي ﻻإله إﻻ هو الحي القيوم وأتوب إليه لي ولوالدي ولأصحاب الحقوق الواجبات علي ولجميع المسلمين.
Kematiansudah pasti, yang perlu dipersiapkan orang beriman adalah bekalnya untuk menuju keabadian. Kehidupan dunia meski sebentar namun menentukan kehidupan selanjutnya yang abadi (akhirat). Dunia tempat menanam, akhirat tempat memanen. Siapa yang menanam kebaikan maka akan memanen pahala dan ditempatkan di surga; begitu pula sebaliknya. Maka jangan terlena kehidupan dunia!  

Yang menarik Syaikhana mengritik mulaqqin (pembaca talqin) yang tak memahami makna talqin yang sedang dibacanya “seharusnya seorang mulaqqin mengerti dengan apa yang dibaca. Jika tidak paham dengan apa yang sedang dibacanya maka sama saja dengan suara trompet. Meski tidak apa-apa bagi mayat.” (h. 30).

Seorang kiai atau ustaz harus berusaha memahami terlebih dahulu apa yang akan dibacanya. Sehingga dia sendiri bisa meresapi maknanya sebelum orang lain. Ini sebenarnya berlaku bagi semua doa-doa, zikir dan hizib yang biasa dibaca oleh masyarakat muslim. Sebab bacaan-bacaan tersebut bukan Al-Qur’an yang bisa mendapat pahala meski tidak dipahami maknanya.    

Mengingat Mati dalam Tarekat Naqshabandiyah

Anjuran mengingat kematian ditegaskan kembali oleh Syaikhana saat seseorang melihat atau mengantar jenazah ke kuburan. Beliau mengutip ucapan masyhur ulama “pikirkan tentang kematian dan apa yang akan terjadi setelah mati”.

Mengingat dan memikirkan kematian menjadi rutinitas sebagian tarekat sufi, semisal tarekat Naqshabandiyah, dengan rabithah al-qabrnya. Rabithah al-qabri merupakan proses meditasi bagaimana seorang salik diantar oleh mursyidnya untuk membayangkan dirinya yang akan menjemput ajal tanpa ada obat/dokter yang bisa menundanya; tak ada yang akan menemaninya menuju alam barzakh kecuali amal shaleh. Dia kemudian dihadapkan pada nikmat kubur atau azab kubur sebelum menuju akhirat.

Hal ini dianggap penting karena mengingatkan seseorang tentang kematian saja tidak cukup. Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam syarah Ratib pernah menasehati: harus memikirkan dan merasakan hadirnya kematian, membayangkan situasi gentingnya, sakaratul maut, apakah akan husnul khatimah atau tidak, bagaimana nasibnya di akhirat, dst, supaya membekas di hati. Al-Hasan Al-Bashri bila menghadiri salah seorang murid atau sahabatnya yang sekarat maka setelahnya tak bisa makan dan minum hingga berhari-hari. 

Sudah mufakat bahwa Syaikhana Kholil merupakan murid kinasih bujuk Agung (Kiai Abdul Azim), seorang mursyid tarekat Naqshabandiyah-Muzhariyah yang tersebar di Madura. Dengan demikian, bisa diasumsikan, bahwa rutinitas ini menjadi salah satu yang diamalkan oleh Syaikhana. Diperkuat dengan figur Syaikhana yang tak mau mengajarkan atau menuliskan ilmu kecuali dirinya sudah mengamalkan.

Dalam Naqshabandiyah, seperti ditulis oleh Syeikh Muhamad Amin Al-Kurdi di Tanwir Al-Qulub, seseorang yang memperbanyak mengingat kematian akan dimulyakan dengan tiga hal: menyegarakan tobat, memiliki hati yang qona’ah, dan menjadi giat ibadah. Sebaliknya yang lupa kematian akan dihukum dengan tiga hal: menunda tobat, tak pernah merasa cukup (rakus), malas ibadah.

Kematian Menurut Kaum Sufi

Dalam Syarhu As-Shudur, imam As-Suyuthi mendefinisikan bahwa kematian bukan ketiadaan dan kefanaan murni. Ia adalah proses terlepasnya ruh dari badannya. Berpindah dari satu alam (dunia) menuju alam (barzakh) selanjunya. 

Sementara Sayid Ahmad Zaini Dahlan, seorang guru Syaikhana di tanah haram, dalam buku Tasawufnya Taqrib al-Ushul Li Tashil al-Wushul membagi kematian dalam dua macam: mati ittirari (secara terpaksa karena sudah takdir) yang akrab kita kenal. Kedua, mati ikhtiari (atas dasar pilihan dan usaha) yang dikenal dalam ajaran kaum sufi.

Kematian ikhtiari diwujudkan dengan jalan mengendalikan hawa nafsu dan kehendak duniawi. Berusaha keluar dari sifat-sifat manusiawi dan bersikap layaknya mayat di hadapan Allah; tanpa merasa punya kehendak, pilihan, dan rencana.

Bagi yang sudah melatih diri dengan kematian ikhtiari tak akan merasa kaget dan takut menghadapi kematian ittirari sebab dia sudah membiasakan kematian sebelum datangnya kematian. Kematian bagi orang seperti ini seakan merefleksikan hadis “hadiah terbaik seorang mukmin adalah kematian” (HR. Al-Hakim & Al-Baihaqi) atau “kematian adalah hiburan bagi seorang mukmin” (HR. Al-Baihaqi dan Ad-Dailami).

Kematian menjadi “pembebasan” dari semua beban kehidupan dan hiruk pikuk duniawi. Kematian menjadi semacam momen yang ditunggu-tunggu karena akan segera berjumpa dengan Kekasih (Allah Swt). dan sembahlah Tuhanmu hingga datang padamu yakin (kematian) (QS. Al-Hijr: 99).

Simak dialog malaikat Izrail (pencabut nyawa) dengan Nabi Ibrahim berikut: “Saya diperintah mencabut nyawamu” kata Izrail memberitahu, “apa tega Allah menyakiti khalil-Nya (kekasih-julukan Ibrahim)?” Akhirnya Izrail balik melapor kepada Allah, dan Allah berpesan “katakan pada Ibrahim: apa beratnya kekasih berjumpa kekasihnya?”. Jadi kematian tetap menyakitkan bahkan lebih sakit dari sayatan 70 kali pedang yang paling tajam, seperti dalam hadis. Tapi persaksian seorang mukmin dengan dibukanya tirai surga, dijemput ulama atau bahkan Rasulullah yang amat dicintainya bisa menghilangkan perihnya sakaratul maut.

Dalam sebuah hadis: Rasulullah menyaksikan jenazah yang diusung kemudian bersabda “mustarih wa mustarah anhu” (dia beristirahat sekaligus diistirahatkan). Orang yang mati beristirahat dari beban kehidupan dunia, jika dia orang baik maka akan benar-benar menikmati kematian dan beristirahat. Jika dia sebaliknya maka, setidaknya, orang lain beristirahat dari keburukannya.

 

Leave a Reply

Physical Address

304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124