Ketum PBNU Kiai Said Aqil Mengunjungi Lajnah Turots Syaikhona Kholil

Keterangan foto : (Dari kanan) Ketua Lajnah Turots Lora Utsman Hasan, Ketua PCNU Bangkalan Kiai Muhamamd Makki Nasir dan Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj di Kantor Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj mengunjungi kantor Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil, di Komplek Pesarean Syaikhona Muhammad Kholil Martajasah Bangkalan, Kamis 18 November 2021. Bertepatan dengan 13 Rabius Tsani 1443 H.

Kunjungan ke Lajnah Turots itu seusai beliau ziarah di makam Syaikhona Kholil Bangkalan bersama rombongan dari PBNU. Tampak mendampingi beliau antara lain Ketua PBNU KH. Robikin Emhas, dan disambut oleh kiai-kiai Dzurriyah Syaikhona Kholil seperti KH. Syafik Rofi’i, Ketua PCNU Bangkalan Kiai Muhamamd Makki Nasir, KH. Hasbullah Muhtarom, KH. Karror Abdullah Schal, KH. Humron Maula Muhammad dan dzurriyah lainnya.

Dalam kunjungan Kiai Said ke Lajnah Turots, Lora Utsman Hasan sebagai ketua Lajnah memperlihatkan beberapa salinan manuskrip karya Syaikhona Muhammad Kholil seperti Alfiyah dan Tafsir Al-Qur’an. Kepada Kiai Said, Ra Usman menuturkan jumlah temuan manuskrip serta sumber-sumbernya yang saat ini sudah sekitar 30 naskah tulisan tangan Syaikhona Muhammad Kholil tersebut.

Dalam pertemuan eksklusif itu juga Kiai Muhammad Makki Nasir, sesepuh dzurriyah yang mendampingi Kiai Said di Lajnah Turots mengutarakan gagasan pentingnya penguatan Turots di abad kedua Nahdlatul Ulama kepada Ketua Umum PBNU yang juga pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah itu.

“Selain Nahdlatul Tujjar dan Tashwirul Alfkar, di abad kedua NU penting juga dilakukan penguatan gerakan Nahdlatut Turots, Kiai.” Tutur Kiai Makki kepada Kiai Said di Kantor Turots. Ide itu disambut baik Kiai Said. Hal itu tak lain adalah kelanjutan dari kegiatan yang menjadi program Lajnah Turots; melakukan rihlah ke berbagai pesantren-pesantren sepuh untuk menggali ‘harta Karun’ berupa manuskrip-manuskrip pengetahuan kiai-kiai pesantren.

Di akhir kunjungan itu, atas permintaan beliau Lajnah Turots menghadiahkan beberapa kitab Syaikhona Muhammad Kholil yang telah diterbitkan oleh Lajnah Turots, seperti Taqrirat Syaikhina Muhammad Kholil ala Mandzumati Nuzhatit Thullab, Isti’dadul Maut, Kitabul Bina’ Dlimna Tadrib wa mumarasah dan Matnul Izzi.

Reporter : Mufti Shohib

turots.id

turots.id

Related Posts

Mengunjungi Lajnah Turots, Sayyid Basim: Kakek Saya Berteman dengan Syaikh Kholil

Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil dikunjungi oleh Dr. Sayyid Basim bin Abdullah Al-Atthos dari Madinah Al Munawwarah. Beliau disambut oleh Ketua Lajnah, Lora Usman Hasan di Kantor Lajnah di komplek Pesarean Syaikhona Muhammad Kholil Martajasah, serta didampingi oleh Ketua Aswaja Center Jawa Timur, KH. Ma’ruf Khozin. Sayyid Basim bertanya banyak tentang Syaikhona Muhammad Kholil, khususnya tentang hubungan Syaikhona dengan saadah Alawiyah.

Bertamu Ke Lajnah Turots, Balitbang Kemenag RI Berharap Ada MoU

Kepada peneliti Balitbang Kemenag itu Lora Utsman menginformasikan sekitar 32 manuskrip karya Syaikhona Muhammad Kholil. Jumlah itu jauh lebih banyak dari temuan yang dilakukan peneliti Balitbang beberapa tahun sebelumnya yang hasilnya dikodifikasi dalam buku kalatog Naskah Keagamaan Madura.

Mengunjungi Lajnah Turots, Sayyid Basim: Kakek Saya Berteman dengan Syaikh Kholil

Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil dikunjungi oleh Dr. Sayyid Basim bin Abdullah Al-Atthos dari Madinah Al Munawwarah. Beliau disambut oleh Ketua Lajnah, Lora Usman Hasan di Kantor Lajnah di komplek Pesarean Syaikhona Muhammad Kholil Martajasah, serta didampingi oleh Ketua Aswaja Center Jawa Timur, KH. Ma’ruf Khozin. Sayyid Basim bertanya banyak tentang Syaikhona Muhammad Kholil, khususnya tentang hubungan Syaikhona dengan saadah Alawiyah.

Bertamu Ke Lajnah Turots, Balitbang Kemenag RI Berharap Ada MoU

Kepada peneliti Balitbang Kemenag itu Lora Utsman menginformasikan sekitar 32 manuskrip karya Syaikhona Muhammad Kholil. Jumlah itu jauh lebih banyak dari temuan yang dilakukan peneliti Balitbang beberapa tahun sebelumnya yang hasilnya dikodifikasi dalam buku kalatog Naskah Keagamaan Madura.