Konsep Ilmu Dzahir dan Batin dalam Gubahan Shalawat Syaikhana Kholil

Dari kandungan makna shalawat yang dikarang Syaikhana menyiratkan dimensi kesufian. Sebab klasifikasi ilmu lahir dan batin hanya dikenal dalam perspektif tasawuf.

اللهم صل على سيدنا محمد صلاة تجعلنا بها من أهل العلم ظاهرا وباطنا وتحشرنا بعبادك الصالحين في دنيانا وأخرانا وعلى آله وصحبه وسلم

Dari kandungan makna shalawat yang dikarang Syaikhana menyiratkan dimensi kesufian. Sebab klasifikasi ilmu lahir dan batin hanya dikenal dalam perspektif tasawuf.

Ilmu dzahir adalah ilmu yang bisa dipelajari dari seorang guru atau membaca buku. Tapi ilmu batin adalah murni wahbi (pemberian Allah). Dalam bahasa sederhana Naṣiruddin al-Ṭusi, pengarang buku tertua tasawuf, ilmu syariat mengajak manusia untuk melaksanakan amal lahir berupa: ibadah bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, dan jihad. Atau berupa hukum seperti had (sanksi-hukuman), perceraian, memerdekakan budak, jual-beli, qiṣaṣ dst. Ini yang dimaksud dengan ilmu dzahir

Di samping itu syariat juga mengajak pada amal batin: seperti, iman, ikhlas, makrifat, tawakal, cinta, kerelaan, zikir (mengingat), bersyukur, takwa, muraqabah, kuatir, berharap, sabar, qanā’ah. Jadi yang dimaksud dengan ilmu batin adalah ilmu tentang hati. (Al-Ṭusi, al-Luma’, 28)

Dalil Ilmu Batin

Bukti terkuat tentang adanya ilmu batin adalah perkataan Abu Hurairah “Aku membawa dua wadah dari Nabi Saw.; yang satu telah aku beritahu kalian, yang satu lagi kalau aku beritahu niscaya leherku akan disembelih.” (HR. Bukhari). Ibn Abbas ketika membaca (QS. Al-Ṭalak: 12) mengatakan “jika aku menafsirkannya, niscaya kalian akan merajamku dan mengatakan aku ‘kafir’”.

Suatu waktu imam Ali bin Abu Ṭalib terlihat menepuk dadanya seraya mengeluh “aduuuh! Di dalam dadaku ini ada banyak ilmu; seandainya ada yang mampu mewarisinya.”

Al-Hasan al-Baṣri jika ingin berbicara tentang ilmu asrār (batin) akan memanggil Farqad al-Ṣubhi, Mālik bin Dīnar, dan orang-orang yang dianggap bisa memahaminya, kemudian akan menutup pintu. (Ibn Arabi, Rasā’il, 16)

Bagaimana Cara Memperoleh Ilmu Batin?

Apakah pengetahuan semacam itu memang ada dan bisa digapai? Fakhrudin al-Rāzī dalam al-Mabāhist al-Masyriqiyyah mencoba menalar secara akal murni (paripatetik): cara membangun argumentasi logika biasanya di mulai dengan mukaddimah sughra (premis mayor), kemudian mukaddimah kubra (premis minor) menghasilkan natijah (kesimpulan). Ini yang disebut naariyat/qiyas (silogisme).

Silogisme bisa dipelajari dari seorang guru atau buku. Selanjutnya ketika seseorang meneruskan kontinuitas berpikir semacam itu, maka bukan tidak mungkin dia akan sampai pada kesimpulan yang hadir dari dalam dirinya sendiri, tanpa lagi bergantung pada guru atau buku. Ini yang disebut Ibn Sina dengan nalar hadas (intuitif).

Menurut al-Jurjani pengetahuan intuitif adalah “permulaan” kasyfu (tersingkapnya tabir hati). Kemampuan semacam ini tidak sama antara satu orang dengan yang lainnya, semua bergantung pada kesiapan masing-masing. (Fakhrudin al-Rāzī, al-Mabāhist al-Masyriqiyyah Vol I, 473-474)

Cara Berinteraksi dengan Ilmu Batin

Ilmu ini terkadang disebut zauq, wajdu, kasyfu, baīrah, ilham, haqīqah, dst. Ilmu ini wajib disembunyikan dari mayoritas manusia karena berkaitan dengan pengalaman intuitif yang tidak boleh diungkap secara vulgar.

Pengungkapan ilmu batin, biasanya, sebatas bahasa isyarat (metafora) dan simbol-simbol sufistik. Karena pengalaman intuitif (kasyf) sejatinya tak bisa diekspresikan dengan bahasa apapun. Ia hanya bisa dirasakan. Maka bahasa simbolis adalah bentuk usaha menguraikan dan menafsirkan pengalaman itu secara terbatas.

Adapun tujuan lainnya: yakni agar tidak disalah pahami oleh orang-orang ‘di luar’ yang tak memiliki simpati pada ajaran tasawuf. (Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, 149)

Lebih rinci lagi Ibn Arabi memberi gambaran bahwa ilmu terdiri dari tiga martabat: pertama, ada ilmu al-aqli, yaitu ilmu yang dihasilkan secara aksiomatis (aruri) atau setelah berpikir dan menyusun dalil (silogisme). Kedua, ilmu al-ahwāl yakni ilmu yang tidak bisa dicapai kecuali dengan zauq “rasa”; ilmu ini tidak tersentuh oleh nalar dan tidak perlu dalil, seperti manisnya madu, kenikmatan seks, cinta dan kerinduan. Ketiga, ilmu al-asrār: ilmu ini di atas nalar akal. Sebuah ilmu yang dihembuskan oleh ruh al-qudsi ke dalam hati seorang wali atau nabi, sebagaimana diurai Muhammad al-Ṣalih al-Ẓawi, dalam al-Taawuf wa al-Awliyā’. Ini yang disebut dengan ilmu batin.

Nabi Saw. Dan Ilmu Batin

Saat Nabi Saw. mendeskripsikan surga, neraka, alam eskatologi (akhirat) atau alam malakūt jangan dikira itu adalah deskripsi kedua setelah diberitahu malaikat Jibril; pengetahuan Nabi Saw. tidak sama dengan pengetahuan kita yang mendengar kabar-kabar eskatologis dari al-Qur’an dan hadis. Pengetahuan semacam ini (dari mendengar atau membaca) disebut taklid. Sementara  pengetahuan Nabi tentang itu semua adalah musyahadah (persaksian) langsung melalui baīrah.

Setiap orang sebenarnya punya potensi menerima pendaran pengetahuan Rasul secara musyahadah, hanya saja jiwa manusia terhalangi oleh kesibukan jasmani sehingga jiwanya terbebani untuk bisa bergabung dengan para rasul, malaikat dan ruh suci lainnya. (Al-Rāzī, al-Mabāhist)

Berbaik Sangka Bagi yang Tidak Dianugerahi Ilmu Batin 

Bagi yang tidak sampai pada martabat ilmu al-asrār, sebaiknya husnuan (berbaik sangka) pada kaum sufi, baik pada ucapan atau perilaku mereka. Kedua, berusaha menakwil apa yang muncul dari mereka dan dianggap berseberangan dengan al-Qur’an atau hadis. Jangan terburu-buru menuduh mereka sebagai “pembohong” karena Allah Maha Mengetahui di mana dan pada siapa hendak meletakkan hikmahNya.

Selain itu, pendaran ilham yang diterima seorang wali merupakan penguraian kebenaran wahyu dan bukan berupa wahyu baru.

Syaikhana, Imam Al-Ghazali dan Ilmu Batin

Syaikhana, sebagaimana tertangkap dalam gubahan shalawatnya, mengimani dan mempercayai adanya ilmu batin atau ilmu al-asrār dalam bahasa Ibn Arabi.

Sebab, beliau sendiri beberapa kali mengalaminya, bahkan semenjak remaja. Tersingkapnya tabir (kasyf) pertama terjadi saat Syaikhana menyaksikan shalat gurunya, kiai Muhammad Noer, di pesantren Langitan. Syaikhana menegur gurunya itu karena dianggap tidak khusuk. Syaikhana bisa menyingkap apa yang tersimpan dalam hati orang lain. Pengetahuan semacam ini mendapat legitimasi syariat sehingga tidak perlu diingkari.

Bahkan kata al-Ghazāli, setiap orang memiliki potensi untuk menyingkap alam malakūt. Karena hati manusia memiliki dua pintu: satu pintu mengarah ke alam mulki dan satu lagi ke alam malakūt.

Hanya saja, tabir yang ada dalam dirinya terlalu tebal. Tabir tersebut ada lima: 1) belum matangnya hati seseorang seperti hati anak kecil, 2) karena maksiat yang mengotori hati, 3) berpalingnya hati dari hakikat dan Allah, 4) karena ideologi dan keyakinan sebelumnya yang tertanam kuat, 5) tidak tahu dari arah mana dia harus memulai semua ini. Untuk menajamkan bairah, seorang salik harus melatih diri dengan lapar, uzlah (menyepi), bangun malam, dan sedikit bicara.

Namun demikian kasyf (pengetahuan intuitif) seorang wali –menurut Ibn Arabi— tak boleh menyalahi kasyf para nabi. Jika itu terjadi maka yang harus dijadikan rujukan adalah para nabi. Karena berarti kasyfu sang wali mengalami cacat sistemik, berupa takwil yang melewati batas.

3 Comments

Leave a Reply

Physical Address

304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124