Konsep Tawakal Syaikhana Kholil di Balik Perahu ‘Sarimuna’

Setelah gencar berdakwah, Syaikhana berhasil membangun puluhan masjid di sepanjang kota Bangkalan hingga Sampang. Syaikhana juga membangun banyak pesantren yang kelak diwariskan pada anak-cucunya. Namun ada satu pesan simbolik penuh makna, yaitu Syaikhana juga sempat membuat sebuah perahu yang diberi nama Sarimuna yang hingga kini masih terjaga sebagai monumen di samping masjid yang dibangunnya di kawasan Telaga Biru-Bangkalan. Perahu ini menjadi pesan simbolik bahwa dakwah harus berjalan beriring dengan ekonomi yang stabil.

Setelah gencar berdakwah, Syaikhana berhasil membangun puluhan masjid di sepanjang kota Bangkalan hingga Sampang. Syaikhana juga membangun banyak pesantren yang kelak diwariskan pada anak-cucunya. Namun ada satu pesan simbolik penuh makna, yaitu Syaikhana juga sempat membuat sebuah perahu yang diberi nama Sarimuna yang hingga kini masih terjaga sebagai monumen di samping masjid yang dibangunnya di kawasan Telaga Biru-Bangkalan. Perahu ini menjadi pesan simbolik bahwa dakwah harus berjalan beriring dengan ekonomi yang stabil.

Murid adalah Presentasi Ajaran Guru-gurunya 

Syaikhana seakan sedang mempraktikkan doktrin salah satu gurunya, Sayid Ahmad Zaini Dahlan yang menulis dalam karya tasawufnya, Taqrīb al-Uṣul Li Tas-hīl Wuṣūl: di masa kini seorang guru (kiai-ustadz) semestinya memiliki kerja dan penghasilan (kasab) sendiri: tidak mempraktikkan maqam tajrīd.

Karena para muhsinin (dermawan) masa sekarang, memberi dan menyantuni kiai dan ustadz dengan dua alasan: karena malu atau memberi dengan maksud merendahkan. Sangat sulit menemukan dermawan yang menyantuni orang berilmu dengan maksud menghormati ilmunya.

Seorang guru Syaikhana lainnya, Syeikh Nawawi Banten dalam Salalim Al-Fudhala’, malah menegaskan bahwa bekerja dan mencari kasab tak menghalangi sama sekali dari sifat tawakal. Seorang yang bekerja mencari penghidupan untuk diri dan keluarganya tetap bisa mencapai maqam tawakal selama pengharapan hatinya hanya digantungkan pada Allah.

Rasulullah Saw. bersabda “tawakal adalah hali (sikap dan kondisi hatiku) sementara iktisab (bekerja) adalah sunnati (ajaran dan warisanku).” Maka imam Al-Junaid mendefinisikan tawakal dengan “menggantungkan hati pada Allah.” Secara lahir seseorang bisa saja bekerja tapi hatinya selalu bersama Allah.    

Usaha atau Tajrid yang Afdal?

Hanya saja ulama tasawuf berbeda pendapat tentang mana yang lebih afdal antara berikhtiar mencari rejeki atau tajrid (pasrah) dan menerima semua pembagian Allah. Keduanya sama-sama dibenarkan dalam ajaran tasawuf. Sebab sama-sama dipraktikkan oleh kaum salaf, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in.

Maqam tajrīd, kata Ibn Ajibah dalam Syarah Al-Hikam, adalah kondisi yang dijalani seorang salik dengan tanpa melakukan usaha sama sekali. Dia melatih dirinya hanya menggantungkan dirinya pada Allah. Untuk menjalani tajrīd ada syarat dan ketentuan yang harus dijalani seseorang. Diantaranya dia tidak boleh mengeluh bila rejeki yang ditunggunya lambat; saat menerima pemberian seseorang, dia harus menyadari sepenuh hati bahwa semua itu dari Allah.

Bagi yang sekiranya tak akan merasa kesal dengan takdir Allah tatkala mengalami kesulitan rejeki maka tajrīd lebih afdal, dengan catatan tak mengharap santunan manusia, karena situasi itu melatih dirinya bersabar dan mengendalikan nafsunya. Sebaliknya, bagi yang tidak mampu bersabar dan hanya akan membuatnya marah-marah dan mengharap pemberian orang lain, maka sebaiknya mencari kasab.

Jadi dibangunnya perahu Sarimuna bukan semata bagaimana menafsirkan sosok Syaikhana yang tidak hanya ahli agama dan memiliki perhatian pada sektor ekonomi umat. Tapi perahu Sarimuna merupakan kulminasi dari “konsep tawakal” yang diyakininya.

Seorang murid adalah presentasi dari ajaran dan perilaku guru-gurunya. Sayid Ahmad Zaini Dahlan dan imam Nawawi Banten termasuk dua maha guru yang sangat dibanggakan oleh Syaikhana Khalil. Ini bisa dilihat dari tansmisi sanad keilmuan Syaikhana yang terhubung langsung ke dua tokoh inti tanah haram itu.

Konsep tawakal ini bisa dipotret dari perjalanan hidup Syaikhana yang semenjak belia sudah tidak menggantungkan hidupnya pada siapapun selain Allah. Ketika mondok di Pasuruan Syaikhana menjadi buruh tani, di Banyuwangi pemanjat pohon kelapa gurunya, di Mekkah menjadi penyalin naskah Alfiyah, saat pulang ke Madura menjadi penjaga malam di kantor kadipaten. Proses ini harus dipotret lebih jernih supaya pecinta dan pengagumnya bisa mengambil ibrah dari sosok agung ini.

One comment

Leave a Reply

Physical Address

304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124