Marjinalia Rihlah Lajnah Turots Syaikhona Kholil ke Banyuwangi

kami ditunjukkan satu naskah tentang biografi Kiai Sholeh yang ditulis oleh muridnya bernama Kiai Suhaimi dari Pamekasan. Di kitab ini ada satu fragmen yang berisi kedekatan dan hubungan Kiai Sholeh dengan Syaikhona Kholil.

Sabtu, (29/08) – Tepat pada pukul setengah delapan malam ba’da salat Isyak rombongan Tim Turots bertolak dari Bangkalan menuju Banyuwangi guna menelusuri jejak literasi dari Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif di Bumi Blambangan. Kali ini Tim Turots menjadwalkan tiga destinasi: pertama, Kecamatan Glenmore menuju ndalem Kiai Hasan Abdillah. Beliau adalah putra Kiai Ahmad Qusyairi, salah satu santri kinasih Syaikhona Kholil. Kami menuju ndalem Kiai Hasan Abdillah atas petunjuk Kiai Hamid bin Ahmad Qusyairi yang tempo hari sudah kami kunjungi. “Barangkali di sana sampeyan bisa menelusuri lebih lanjut,” ujar Kiai Hamid kala itu sambil menyeruput tehnya.

Kedua, kami hendak berkunjung ke Kecamatan Genteng, tepatnya Desa Jalen. Konon di pondok yang bernama Al-Ashriyyah ini Syaikhona Kholil menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu sebelum akhirnya beliau fokus untuk pergi ke Makkah. Ketiga, kami berkunjung ke Pondok Lateng yang didirikan oleh Kiai Sholeh yang juga seorang santri yang cukup lama menimba ilmu kepada Syaikhona Kholil. Di destinasi terakhir ini kami hendak menemui Mas Ayung Notonegoro. Beliau adalah pendiri Komunitas Pegon, sebuah komunitas yang aktif menelusuri jejak manuskrip di Banyuwangi, utamanya yang beraksara Jawi alias pegon.

Kiai Hasan Abdillah

“Sampeyan ke sini pada waktu haulnya abah saja. Biar bisa ketemu sama kakak saya yang di Jakarta serta paman-paman.”ujar Gus Washil putra Kiai Hasan Abdillah dari sambungan telfon. “Siapa tahu ada yang bisa memberi informasi.” Itulah sebabnya kami berangkat pada tanggal 29 Agustus.

Selepas bermalam di rumah Gus Wahab di Ponpes Maghfilud Dhuror Maesan Jember, kami bertolak ke Glenmore pukul sembilan pagi. Sekitar dua jam lebih kami menempuh perjalanan hingga akhirnya sampailah kami di ndalem Gus Washil, tepatnya Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore.

“Waalaikumsalam,” ujar Gus Washil ramah menjawab uluk salam kami sambil mempersilahkan duduk. Setelah beramah tamah sebentar, Gus Washil mulai menjelaskan bahwa sejauh ini beliau masih belum menemukan naskah khusus tentang Syaikhona Kholil. Namun ada beberapa fragmen wirid maupun catatan yang menyebut-nyebut nama beliau. Di antaranya adalah ijazah qira’ah Imam Hafsh kepada Kiai Ahmad Qusyairi. Di dalamnya Syaikhona menulis agar Kiai Ahmad Qusyairi selalu mendawamkan membaca Alquran. “Aku .. “ tulis Kiai Ahmad Qusyairi dalam ijazah itu, “sangat senang sekali dengan adanya tulisan guruku ini.” Barangkali hal ini adalah salah satu motivasi Kiai Ahmad Qusyairi menghafalkan Alquran. Seperti sudah diketahui, Kiai Ahmad Qusyairi adalah seorang penghafal Alquran. Beliau mulai menghafalkan Alquran ketika beliau “merasa minder” istrinya hafal Alquran. Akhirnya beliau menghafalkan Alquran di Makkah dalam jangka waktu hanya tiga bulan.

Selain itu kami mendapat doa agar mendapat ilmu ladunni dari Kiai Hasan Abdillah yang di dalamnya terdapat tawasul kepada Syaikhona Kholil.

Setelah bercengkrama di kediaman Gus Washil, kami diajak berpindah ke acara haul menemui Kiai Hilmi, putra Kiai Hasan Abdillah yang paling sepuh. “Kakek saya itu sangat-sangat hormat kepada Mbah Kholil,” Kiai Hilmi membuka pembicaraan, “karena tiga generasi mengaji kepada Mbah Kholil.”

Tiga generasi itu adalah Kiai Muhammad Shiddiq Lasem lalu putranya, Kiai Ahmad Qusyairi, lalu putra tertuanya lagi, Kiai Ridlwan. “Bahkan Abah (Kiai Hasan Abdillah) mewajibkan putranya untuk menghafalkan Alfiyah dan membacanya di pesarean Mbah Kholil.”

Namun Kiai Hilmi mengungkapkan bahwa sejauh ini beliau belum menemukan naskah Syaikhona Kholil di Glenmore. “Kemungkinan besar ada di ndalem Abah Yai di selatan.” Karena mepetnya jadwal, sayang sekali kami belum sempat untuk mengunjungi ndalem beliau. “Baiklah, mungkin lain waktu kalau sudah ketemu saya akan kabari.” Beliau menutup pembicaraan seru siang itu. Setelah itu kami berpindah menuju pesarean Kiai Hasan Abdillah guna berziarah, membaca tahlil, serta bertawasul dan mengaharap berkah beliau serta abah beliau dan guru-gurunya.

Kiai Abdul Bashar Jalen

“Katanya orang-orang begitu..” ujar Kiai Sa’ad Ali sambil tertawa kecil ketika ditanya apakah betul Syaikhona Kholil mondok di sana? Kabar Kiai Kholil mondok di Banyuwangi banyak di sebutkan oleh beberapa ulama. Namun pihak dzurriyyah sendiri terkesan khumul sehingga tidak ingin menampakkan maziyyah ini. Pondok peninggalan Kiai Bashar itu bernama Al-Ashriyyah. Lokasinya asri dikelilingi banyak pohon kelapa. “Kelapa di sini digunakan untuk membuat penjalin. Makanya desa ini diberi nama Jalen,” Kiai Sa’ad Ali menyeruput kopinya. Kiai Bashar yang menjadi guru Syaikhona ini sendiri berasal dari Banten. Lalu beliau menuntut ilmu hingga ke Ringinagung Kediri. Di sana beliau akhirnya menikah dengan putri Kiai Yunus dari Cepoko Blitar. Lalu tak lama kemudian karena satu dan lain hal, Kiai Bashar mendirikan pondok di Banyuwangi. Kiai Sa’ad Ali sendiri adalah cucu Kiai Bashar yang wafatpada tahun 1915.

Kiai Sa’ad Ali sendiri menuturkan bahwa sejatinya masih terdapat hubungan antara Bangkalan dan Jalen. Beliau ingat bahwa pada tahun 1964 beliau diutus ayahnya yakni Kiai Mawardi untuk menuntut ilmu ke Sarang kepada Kiai Zubair ayah Kiai Maimun. Sebelum berangkat ke Sarang, beliau oleh ayahnya diajak ke Bangkalan terlebih dahulu untuk sowan kepada Kiai Kholil Yasin di Kepang. Ini merupakan bukti bahwa antara Jalen dan Syaikhona Kholil masih terdapat hubungan kuat.

Kata Kiai Sa’ad Ali, metode yang diterapkan Kiai Bashar adalah mengaji haliyyah. Mengaji haliyyah bukanlah mengaji kitab sebagaimana ditempuh dalam pengajian formal seperti pondok pada umumnya. Melainkan mengaji membenahi laku. “Jadi kemungkinan metode itu pula yang diterapkan Mbah Bashar kepada Syaikhona Kholil. Mengingat beliau datang ke sini sudah dalam keadaan alim.”

Ponpes Al-Ashriyyah sendiri kini sudah tak berpenghuni. “Ada satu-dua santri tua berusia delapan puluh lebih yang dulu mengaji kepada Kiai Mawardi,” ujar Gus In’am yang mendampingi kami selama berkeliling di sana, “santri tua itu tidak menikah sampai sekarang.” Terlihat bekas asrama masih nampak cukup rapi. Di pondok ini ada satu kentongan besar. “Katanya kentongan itu buatan Syaikhona Kholil di Bangkalan dan dibawa ke sini.” Ujar Kiai Sa’ad Ali menutup pembicaraan sore itu.

Pondok Lateng

Pondok Lateng adalah pondok yang didirikan Kiai Sholeh. Kiai Sholeh sendiri adalah santri kinasih Syaikhona Kholil. Pondok Lateng adalah lokasi muktamar tahun 1936. “Namun sayangnya Kiai Abdul Hadi putra Kiai Sholeh meninggal karena kecelakaan,” ujar Mas Ayung yang menemui kami di Masjid Kiai Sholeh, “sehingga regenerasi pondok ini terganggu.” Mas Ayung sendiri menyebut ada satu lemari besar yang berisi kitab peninggalan Kiai Sholeh. “Bahkan Kiai Sholeh sudah punya kitab Mu’jam al-Buldan di zaman itu.” Kitab Mu’jam al-Buldan adalah kitab langka karya Yaqut Al-Hamawi yang menjelaskan tentang kota-kota di dunia zaman itu. Ini menunjukkan didikan Syaikhona Kholil kepada Kiai Sholeh sangat luar biasa. Sehingga beliau memiliki tsaqafah yang luas.

Oleh Mas Ayung kami ditunjukkan satu naskah tentang biografi Kiai Sholeh yang ditulis oleh muridnya bernama Kiai Suhaimi dari Pamekasan. Di kitab ini ada satu fragmen yang berisi kedekatan dan hubungan Kiai Sholeh dengan Syaikhona Kholil. Mungkin barangkali lain waktu akan kami tulis tentang hal ini.

Tepat pukul sembilan malam, kami pulang menuju Bangkalan melewati Jalan Pos sambil merenungi perjalanan Syaikhona Kholil di abad 19 mencari ilmu di Banyuwangi.

 

One comment

Leave a Reply

Physical Address

304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124