Masjid Muammar Syaikhona Muhammad Kholil Lajing Arosbaya

Masjid
Masjid Muammar Syaichona Moh Cholil Bangkalan terletak di Desa Banyuajuh Desa Lajing Arosbaya. Masjid ini merupakan masjid binaan dari Syaichona Moh Cholil Bangkalan. Syaichona membangun masjid muammar bersama warga sekitar sebagai sarana dakwah Islamiyah di wilayah tersebut pada tahun 1341 H. Dikisahkan, bahwa Syaichona Moh Cholil sering setiap satu minggu atau satu bulan sekali mendatangi Desa Lajing Arosbaya dan sholat asar berjamaah di masjid tersebut. Beliau datang dari Bangkalan dengan mengendarai kuda.

Ahli shodaqoh
Sebagai umat muslim yang taat beragama, Syaichona Moh. Cholil Bangkalan selalu mengajarkan nilai-nilai islam terhadap keluarga, santri dan masyarakat Bangkalan. Beliau juga alim dalam beberapa disiplin ilmu, serta ahli dalam bershodaqoh. Dalam setiap perjalanan dakwah Syaichona pada beberapa masjid binaannya, Syaichona sering membawa kantong berisikan uang logam dan diberikan pada setiap orang di perjalanan bahkan terhadap setiap orang yang beliau jumpai. Hal tersebut pernah dijumpai oleh Santri Syaichona Moh Cholil Bangkalan yang berdomisili di Arosbaya. Santri tersebut bernama H. Bakrie. Masyarakat Desa Lajing lebih mengenalnya dengan sebutan Aba Sanie.
Menurut penuturan pengurus masjid Muammar, H. Badri, ia pernah diceritakan oleh neneknya bahwa setelah sholat asar berjamaah di masjid, Syaichona Moh Cholil mengajak Aba Sani (Santri Syaichona) untuk melanjutkan perjalanan dakwah ke masjid-masjid binaannya. Dalam perjalanannya, Syaichona Moh Cholil mengeluarkan uang logam yang telah beliau sediakan dalam suatu kantong, dan memberikannya kepada masyarakat. Anehnya, meski beliau selalu mengeluarkan uang dan membagikanya pada warga, uang yang ada pada kantong tersebut tidak habis-habis hingga perjalanan Syaichona ke masjid binaannya yang terdapat di Banyuates Sampang. Subhanallah.

Keluarga
Syaichona Moh Cholil Bangkalan memiliki istri di Desa Lajing Arosbaya. Perempuan yang diceritakan, bernama maimuna dan menjadi teman hidup Syaichona dalam perjalanan beliau ke Arosbaya. Sekitar 100 meter dari masjid muammar, Syaichona Moh Cholil mempunyai dhelem tempat peristirahatan beliau pada setiap safari dakwahnya dari masjid ke masjid. Di desa Lajing tersebut, selain mempunyai istri, beliau juga memiliki seorang keturunan laki-laki. Konon, putra Syaichona tersebut bernama Hasan. Hingga saat ini, makam Lora hasan (putra Syaichona) masih tetap ada, ditandai dengan batu nisan kecil berada di barat dhelem Syaichona.

Ahmad Kaab

Ahmad Kaab

Related Posts

Mengunjungi Lajnah Turots, Sayyid Basim: Kakek Saya Berteman dengan Syaikh Kholil

Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil dikunjungi oleh Dr. Sayyid Basim bin Abdullah Al-Atthos dari Madinah Al Munawwarah. Beliau disambut oleh Ketua Lajnah, Lora Usman Hasan di Kantor Lajnah di komplek Pesarean Syaikhona Muhammad Kholil Martajasah, serta didampingi oleh Ketua Aswaja Center Jawa Timur, KH. Ma’ruf Khozin. Sayyid Basim bertanya banyak tentang Syaikhona Muhammad Kholil, khususnya tentang hubungan Syaikhona dengan saadah Alawiyah.

Bertamu Ke Lajnah Turots, Balitbang Kemenag RI Berharap Ada MoU

Kepada peneliti Balitbang Kemenag itu Lora Utsman menginformasikan sekitar 32 manuskrip karya Syaikhona Muhammad Kholil. Jumlah itu jauh lebih banyak dari temuan yang dilakukan peneliti Balitbang beberapa tahun sebelumnya yang hasilnya dikodifikasi dalam buku kalatog Naskah Keagamaan Madura.

Mengunjungi Lajnah Turots, Sayyid Basim: Kakek Saya Berteman dengan Syaikh Kholil

Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil dikunjungi oleh Dr. Sayyid Basim bin Abdullah Al-Atthos dari Madinah Al Munawwarah. Beliau disambut oleh Ketua Lajnah, Lora Usman Hasan di Kantor Lajnah di komplek Pesarean Syaikhona Muhammad Kholil Martajasah, serta didampingi oleh Ketua Aswaja Center Jawa Timur, KH. Ma’ruf Khozin. Sayyid Basim bertanya banyak tentang Syaikhona Muhammad Kholil, khususnya tentang hubungan Syaikhona dengan saadah Alawiyah.

Bertamu Ke Lajnah Turots, Balitbang Kemenag RI Berharap Ada MoU

Kepada peneliti Balitbang Kemenag itu Lora Utsman menginformasikan sekitar 32 manuskrip karya Syaikhona Muhammad Kholil. Jumlah itu jauh lebih banyak dari temuan yang dilakukan peneliti Balitbang beberapa tahun sebelumnya yang hasilnya dikodifikasi dalam buku kalatog Naskah Keagamaan Madura.