Menafsirkan Tasbih, Tongkat dan Ayat Sebagai Simbol Kesufian

[avatar user=”Abdul Mun im Cholil Lc M Ag” /]

Saat kiai As’ad diutus Syaikhana Khalil mengantarkan tongkat dan tasbih yang dikalungkan ke lehernya menuju Tebuireng Jombang, seraya membaca ayat (QS. Ṭāha: 17-23) ada pesan simbolik yang tidak hanya bisa dibaca sebagai perlambangan tentang restu untuk pendirian NU sekaligus simbol persatuan dan kekuatan NU di masa depan. Peristiwa maha penting ini didokumentasikan secara detail dalam ceramah Kiai As’ad berdurasi sejam lebih.

Perspektif Baru
Peristiwa itu sebenarnya menyiratkan pesan dan penafsiran penting lain yang banyak tidak disadari oleh pengagumnya. Tasbih dan tongkat itu memang benda mati namun memiliki signifikansi di tengah komunitas pesantren tradisional dan turats mazhab Sunni secara umum. Keduanya adalah simbol sekaligus identitas.

Peristiwa ini menegaskan prinsip dan ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Syaikhana; Syaikhana masuk kategori sufi yang beraliran Sunni, bukan falsafi. Dia mengintegrasikan semua suluknya pada al-Qur’an maupun hadis. Seluruh perilakunya didasari oleh kesadaran mendalam tentang pengamalan ortodoksi keagamaan yang dianutnya.

Ini yang kemudian harus dipahami bahwa Syaikhana mewakili arus besar dalam tasawuf yang berafiliasi pada al-Junaid maupun al-Ghazali. Sebuah pemahaman tasawuf yang moderat. Dan moderasi semacam itu yang kemudian dikembangkan oleh Hadratusyeikh kiai Hasyim Asy’ari sebagai penerima mandat dan amanah.

Aliran tasawuf Sunni yang moderat ini bahkan dikukuhkan sebagai identitas Jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang digagasnya atas restu sang mahaguru, Syaikhana Muhammad Khalil Bangkalan. NU mengikrarkan sebagai pengikut imam Al-Junaid dan Al-Ghazali dalam tasawuf.

Tasbih
Yang perlu untuk ditandai dalam peristiwa tersebut adalah adanya alat zikir yang disebut tasbih atau subhah. Sekali lagi, imam al-Junaid yang didaulat sebagai role model memang termasuk tokoh yang tidak pernah lepas dari tasbihnya. Menjelang usia senjanya, dalam sebuah cerita, al-Junaid pernah ditanya “mengapa hingga kini anda tak pernah terlihat melepas tasbih itu, padahal anda sudah menjadi orang terhormat?” al-Junaid menjawab “dengannya [tasbih] saya sampai pada maqam ini, maka saya tak akan meninggalkannya.”

Tasbih menempati posisi penting dalam doktrin kaum sufi. Sebab tasbih menjadi semacam pengingat untuk melanggengkan zikir dan upaya-upaya menggapai target kuantitas tertentu dalam berzikir. Keberadaan tasbih membantu seorang salik agar lebih mudah mengingat jumlah zikir tertentu yang sedang diamalkannya.

Hadis Musalsal Bi As-Subhah
Bahkan dari saking pentingnya tradisi memegang tasbih, kaum sufi memiliki hadis yang dikenal dengan musalsal bis subhah (mata rantai hadis tentang tasbih). Meski hadis ini berstatus hadis Musalsal, yang dalam pengertian ilmu Musṭalah al-Hadis levelnya sebagai hadis ḍaif. Tapi hadis musalsal bis subhah merupakan identitas dan tradisi kaum sufi.

Biasanya hadis ini tersambung pada al-Hasan al-Bashri (Tabi’in terbaik) sebagai penghulu sanad, dan diklaim sebagai tradisi mapan kaum salaf yang tak bisa dibid’ahkan, karena al-Hasan adalah seorang tabi’in yang berguru langsung pada sahabat Ali bin Abu Ṭalib (Bapak ruhani bagi kaum Sufi Sunni).

Beberapa kalangan anti-sufi mengasosiasikan tradisi ini sebagai warisan Hindu atau Budha, yang kemudian diadopsi oleh kelompok sufi. Sebenarnya Islam sebagai agama samawi bukan tipologi agama yang tertutup, ia tidak jarang mengadopsi atau mengadaptasi peradaban dan budaya asing selama dianggap baik dan tidak menyalahi ortodoksi syariat.

Tasbih hanya alat untuk membantu seseorang mengingat jumlah zikir yang dibacanya. Ada sebuah hadis yang menguatkan tradisi memakai Nabi melihat salah seorang istrinya, Ṣafīyah, yang berzikir dengan kerikil, dan Nabi tidak mengingkarinya.

Tasbih dan Zikir Syaikhana
Peristiwa ini sekaligus menegaskan urgensitas zikir dalam suluk Syaikhana Khalil. Tasbih yang diserahkan pada muridnya, kiai Hasyim Asy’ari, melalui kiai As’ad sebenarnya adalah simbol kesufian yang menjelaskan pribadi Syaikhana yang tidak pernah lepas dan memalingkan hati dari Allah.

Suluk semacam ini adalah manifestasi dari tradisi al-Hasan al-Baṣri, al-Junaid dan kaum sufi lainnya. Pertautan hati dengan Allah adalah prioritas kaum sufi untuk merengkuh musyahadah (persaksian), dan tasbih menjadi instrumen terpentingnya.

Tasbih bahkan bisa diidentifikasi sebagai pembeda antara yang pro dan anti tasawuf. Tasbih menjadi ciri khas kaum sufi dan NU secara umum. Sementara di lain pihak, ada sekelompok minoritas umat islam (seperti Wahhabiyah) yang memerangi simbol-simbol kesufian seperti tasbih tanpa mau tahu sejarah asal-usul dan dalil-dalinya.

Tongkat
Adapun tongkat adalah simbol kematangan spritualitas. Semisal dalam tradisi ulama al-Azhar di Mesir atau beberapa negara Islam disebutkan bahwa seseorang yang telah mencapai usia senja disunahkan memakai tongkat, atau meski umurnya belum tua tapi memiliki kualitas keilmuan dan standar spritualitas tertentu juga dianjurkan memakai tongkat.

Jadi tongkat adalah simbol kematangan spritualitas dan keilmuan seseorang. Selain itu, karena tongkat mengingatkan pemakainya akan kehidupan dunia yang fana; bahwa dirinya hanya orang asing yang mampir untuk menuju alam akhirat.

Takwil simbol-simbol sufistik semacam ini sengaja penulis hadirkan untuk mendampingi penakwilan dan penafsiran yang sudah ada terkait restu Syaikhana atas pendirian NU. Penulis tidak mengabaikan penafsiran yang sudah femiliar di kalangan warga Nahdliyyin bahwa tasbih adalah simbol perekat dan penyatu, tongkat sebagai simbol kekuatan NU, QS. Al-Taubah: 32 sebagai simbol perlindungan dan ridha Allah dan seterusnya.

Namun takwil ala sufi seperti ini, setidaknya, bisa memperkaya paradigma kita mengenai dimensi sufistik dalam diri Syaikhana. Mengapa harus tasbih? Tentu Syaikhana menitipkan sesuatu yang sudah akrab dalam kesehariannya. Dan tasbih merupakan perangkat yang tak pernah lepas dari keseharian Syaikhana Khalil.

Leave a Reply

Physical Address

304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124