Risalah Rihlah Jaringan Keilmuan Syaikhona Kholil Madura di Tatar Sunda (3)

MAKAM SAYYID ABDULLAH B. SHADAQAH B. ZAINI DAHLAN (W. 1941) DI KARANGPAWITAN GARUT

—————————————————-

Destinasi kegiatan muhibah ziarah sejarah jaringan keilmuan Syaikhona Kholil Bangkalan Madura di Tatar Sunda berikutnya adalah makam Sayyid Abdullah b. Shadaqah b. Zaini Dahlan yang terdapat di Ciparay Girang, Karangpawitan, Garut, Jawa Barat.

Bagaimana Syaikhona Kholil Bangkalan (w. 1925) bisa terhubung jaringan keilmuannya dengan Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan (w. 1941)?

Di antara guru Syaikhona Kholil Bangkalan di kota suci Makkah adalah Sayyid Ahmad b. Zaini Dahlan (w. 1885). Beliau adalah mufti madzhab Syafi’i di Makkah yang juga menjadi mahaguru ulama Nusantara di Makkah generasi akhir abad 19 M. Di antara murid beliau, selain Syaikhona Kholil Bangkalan, adalah Syaikh Nawawi Banten (w. 1897), Sayyid Usman b. Yahya (w. 1913), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916), Syaikh Mahfuzh Tremas (w. 1920) dan lain-lain.

Di antara kitab karangan Sayyid Ahmad b. Zaini Dahlan yang populer dan hingga saat ini masih dipelajari dan tersebar di instansi pendidikan tradisional di Nusantara adalah “Syarh Mukhtashar Jiddan ‘alâ al-Âjurûmiyyah” dalam bidang kajian gramatika bahasa Arab. Kitab ini kemudian di-hâsyiah (diberi komentar panjang) oleh Syaikh Ma’shum b. Salim Semarang (w.?). Hâsyiah tersebut berjudul “Tasywîq al-Khallân ‘alâ Syarh Mukhtashar Jiddan” yang ditulis pada tahun 1884-an.

Perjumpaan antara Syaikhona Kholil Bangkalan dengan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan terekam dalam manuskrip biografi Syaikhona Kholil Bangkalan yang ditulis oleh Syaikh Yasin Padang (w. 1991). Tertulis di sana:

قرأ بمكة على المفتي السيد أحمد بن زيني دحلان المكي ولازمه سنين عديدة. وبه تخرج. فأخذ منه على العربية اللغة والنحو والقراءات واتفسير والحديث والأصول والفقه الشافعي وأجازه عامة بالرواية عامة والتدريس

(Di Makkah, Syaikhona Kholil Bangkalan mengaji kepada Mufti [Madzhab Syafi’i] Sayyid Ahmad b. Zaini Dahlan al-Makki. Syaikhona Kholil belajar dan mulazamah kepada Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam beberapa tahun lamanya. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan pula Syaikhona Kholil lulus. Dari beliau, Syaikhona Kholil belajar dalam bahasa Arab, nahwu, ilmu qira’at, tafsir, hadits, ushul fikih dan fikih madzhab Syafi’i. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan juga memberikan Syaikhona Kholil kredensi (ijazah) umum atas jalur transmisi keilmuan (riwayah), juga memberikannya izin untuk mengajar).

Sayyid Ahmad b. Zaini Dahlan memiliki keponakan yang diasuhnya sejak kecil, yaitu Sayyid Abdullah b. Shadaqah b. Zaini Dahlan. Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan juga yang di kemudian hari menggantikan posisi dan kedudukannya sebagai imam dan pengajar madzhab Syafi’i di Masjidil Haram di Makkah.

Sejak tahun 1356 H/ 1937 M, Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan memilih untuk menetap di Garut, tepatnya di kampung Karang Pawitan, Ciparay, hingga akhir hayatnya pada tahun 1360 H/ 1941 M. Sebelum menetap di Garut, Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan telah beberapa kali datang ke Nusantara (Singapura, Malaya, Sumatra, Jawa, dam Sulawesi), tercatat sejak tahun 1318 H (1900 M). Beliau banyak membantu beberapa ulama Nusantara yang menjadi kawannya dalam upaya mendirikan institusi pendidikan Islam, di antaranya adalah Madrasah Nurul Islam di Jambi, juga Madrasah As’adiyah di Sengkang (Sulawesi Selatan).

Sayyid Abdullah datang ke Jawa bersama saudaranya, yaitu Sayyid Hasan b. Shadaqah b. Zaini Dahlan. Jika Sayyid Abdullah menetap di Garut, maka Sayyid Hasan menetap di Kendal (Jawa Tengah). Sayyid Hasan berbesan dengan Syaikh Hamzah Syatha, salah satu kerabat Syaikh Abu Bakar Muhammad Syatha (Sayyid Bakri), pengarang kitab “I’ânah al-Thâlibin Hâsyiah ‘alâ Fath al-Mu’în” yang menetap di Sedan (Rembang, Jawa Tengah). Putra Sayyid Hasan adalah Sayyid Haidar, yang dimakamkan di Lasem. Sayyid Haidar adalah santri dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (w. 1947) sekaligus orang yang pertamakali menulis biografi Syaikh Nawawi Banten dalam bahasa Indonesia (terbit tahun 1975).

* * * * *

Di Garut, Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan meninggalkan beberapa jejak karya intelektual yang ditulisnya dalam bahasa Arab. Di antaranya adalah risalah berjudul “Risâlah al-‘Izhah wa al-Dzikrâ bi al-Harb al-‘Âlamiyyah al-Kubrâ” yang ditulisnya pada tahun 1940. Terkait ulasan karya tersebut, dapat disimak pada tautan berikut:

https://web.facebook.com/photo.php?fbid=10157705762049696&set=pb.570469695.-2207520000..&type=3

Kami tiba di Karangpawitan Garut saat waktu shalat ashar tiba. Kami pun terlebih dahulu menunaikan shalat asar di Masjid Madrasah Dahlan-Maimunah, sebuah institusi pendidikan yang dulu didirikan oleh Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan. Setelah shalat, kami pun diantar oleh Bapak Ajat, warga sekitar madrasah, untuk berziarah ke makam sang tokoh yang letaknya cukup jauh dari kawasan madrasah.

Pusara orang alim besar yang juga imam dan pengajar madzhab Syafi’i di Makkah ini terdapat di pemakaman umum msyarakat Ciparay Girang, Karangpawitan, Garut. Makam Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan pun tampak sangat sederhana sekali, demikian juga makam anggota keluarga beliau lainnya. Di sekitaran makam beliau, terdapat juga makam Sayyid Musa al-Qadri (w. 1911) yang berasal dari keluarga Kesultanan Pontianak yang menetap dan wafat di Garut. Di samping makam Sayyid Musa al-Qadri, terdapat juga makam Raden Ayu Siti Murtidjah (masih kerabat Pangeran Diponegoro), juga makam Syarifah Khadijah bt. Ali al-Qadri (istri Habib Alwi al-Habsyi Solo).

Beruntungnya, ketika tiba di kompleks makam Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan, kami bertemu dengan Habib Fahmi al-Munawwar yang sedang memugar makam Syarifah Khadijah al-Qadri. Beliau banyak memberikan kami informasi tentang sejarah trah Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan dan Sayyid Musa al-Qadri di Garut.

Terkait sosok Musa al-Qadri Garut, saya menjumpai nama beliau dalam surat yang ditulis oleh Sayyid Abdullah al-Zawawi di Cipanas (Jawa Barat) dan dikirim kepada Snouck Hurgronje di Waltevreden (Batavia) bertitimangsa 28 Rabi’ul Tsani 1313 Hijri (17 Oktober 1895 Masehi). Sayyid Abdullah al-Zawawi (w. 1924) adalah mufti madzhab Syafi’i di Makkah yang terakhir sebelum kota suci itu diduduki oleh Wahhabi pada 1925. Pada akhir abad 19, Sayyid Abdullah al-Zawawi bermukim di Nusantara selama beberapa tahun lamanya. Termasuk beliau pernah mukim juga di beberapa kota di Priangan (Jawa Barat).

Dalam surat tersebut disebut dua orang atas nama Sayyid Abu Bakar al-Qadri dan Sayyid Musa al-Qadri. Nama pertama, Sayyid Abu Bakar al-Qadri, tertulis statusnya sebagai asisten Sayyid Abdullah al-Zawawi yang bermukim di Singapura. Sementara Sayyid Musa al-Qadri, yang tertulis sebagai seorang keturunan Pontianak yang tinggal di Garut, disebut hendak melakukan pernikahan dengan putri Sayyid Abu Bakar al-Qadri.

* * * * *

Setelah selesai berziarah di makam Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan di Ciparay Girang, saya dan tim Lajnah Turats Ilmi Syaikhona Kholil Bangkalan (Kiyai Usman Hasan Su Kakov Kiyai Ismail Amin Kholil Muhammad Ismael Al Kholilie Ustadz Mufti) dan tim Sanad Media (Kiyai Mabda Mabda Dzikara Ustadz Abdul Majid Abdul Majid) bergeser menuju makam Kiyai Adzra’i Sukaraja (Garut), yang berjejuluk Syaikhul Alfiyyah di Tatar Sunda.

Wallahu A’lam

Garut, Jumadil Awal 1442 Hijri/2020 Masehi

Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

Leave a Reply

Physical Address

304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124