Syaikhona Kholil dan Dlomir Mustakin

Pernah, suatu hari Syaikhona Kholil -seperti biasa- menemui sejumlah tamu yang sowan kepada beliau untuk meminta petunjuk dalam hidupnya dan tentunya mengharap ‘barokah’ dari sang wali tersebut, karena pada masanya beliau adalah ulama rujukan bagi orang Madura atau mungkin tanah Jawa.

Singkat cerita, ketika para tamu pamit pulang mereka -seperti biasa- satu persatu ‘nyungkem’ dan mencium tangan sembari menyalami uang kepada beliau. Namun, ternyata ada seorang yang tidak memiliki sesuatu untuk disalamkan sebab dia memang orang yang tak berpunya, melihat orang lain begitu semua maka dia menjadi gundah, gusar, takut dan sungkan bercampur jadi satu karena tidak memberikan apa-apa.

Karena dia memang berniat mencari barokah, diapun dengan pasrah hati tetap memberanikan diri menyungkem kepada beliau, namun saat tiba gilirannya, Syaikhona Kholil sambil tersenyum berbisik kepada orang itu mengutip sebuah nadzom Alfiyah Ibnu Malik:

وَالْـمُفْرَدُ الْجَامِدُ فَارِغٌ وَإِنْ ** يُشْتَقَّ فَهْوَ ذُوْ ضَمِيْرٍ مُسْتَكِنْ

Arti asli bait ini menjelaskan tentang khobar, yaitu “khobar mufrod yang berbentuk isim jamid itu tidak mempunyai dlomir yang kembali pada mubtada’, contoh: زَيْدٌ رَجُلٌ, tapi jika khobar mufrod berupa isim musytaq baik isim fa’il atau isim maf’ul seperti زَيْدٌ كَرِيْمٌ maka mempunyai dlomir yang tersimpan.

Namun tentunya bukan itu yang dimaksud Syaikhona Kholil, sambil menjelaskan maksud bait tersebut beliau dawuh, “ada seseorang yang datang sendirian (mufrod) tanpa memiliki apa-apa (farigh), tapi sebenarnya jika dibelah dadanya (yusytaqqo), dia memiliki hati baik yang tersimpan (dzu dlomirin mustakin)“. Mendengar dawuh itu mantaplah orang tersebut mencium tangan beliau dan ia pulang dengan membawa kebahagiaan tersendiri.

Iya, begitulah Syaikhona Kholil, suka mengutip bait-bait Alfiyah yang notabene merupakan ilmu nahwu tapi beliau bermaksud ke bidang lain, seakan mengajarkan murid-muridnya untuk cerdas dalam memahami sesuatu, untuk selalu melihat sisi lain dalam menilai sebuah permasalahan.

Dan pelajaran yang bisa diambil disini adalah bagaimana caranya kita mempunyai “dlomir mustakin” ini, yang bermula dari hati yang baik, tidak gampang dendam, cepat memaafkan dan tidak gengsi meminta maaf, serta mudah merasa salah sehingga tidak menjadi hati yang keras. Sebab bagaimanapun kita mencari berkah kesana kemari kepada syaikh-syaikh siapapun, jika tidak memiliki “dlomir mustakin” maka apa yang kita dapat? Hanya saja, biasanya orang-orang yang begitu sebenarnya mereka mempunyai hal tersebut.

Jadi point disini adalah, usahakan tradisi seperti itu menjadi sebuah bibit yang tertanam di hati agar sedikit demi sedikit kita dihadiahkan hati yang selamat oleh Allah, lewat barokah para guru. Karena arti dari barokah adalah tambahnya kebaikan, entah itu diri kita, keluarga kita, harta dll. Jika kita bertambah baik maka berbahagialah karena barokah dari guru telah menyertai hidup kita dan kita sedikit demi sedikit mendapatkan kriteria2 hati tersebut.

Ingatlah, dengan memiliki dlomir mustakin, saat kita datang kepada pada guru atau menghadiri haulnya atau berziarah ke maqbarahnya kita akan mendapat pandangan khusus dari beliau seperti dalam kisah tadi, bahkan dari Allah SWT. Dlomir mustakin inilah yang disebutkan oleh Allah sebagai “qolbun salim” atau hati yang murni.

Muhammad Ismail al-Ascholy,

Makkah, 27 Romadlon 1438 H.

 

 

Leave a Reply

Physical Address

304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124